Halo sahabat perempuan, selama 12 pertemuan Savy Amira mendampingi ibu-ibu dari IOM untuk kegiatan menyulam sembari ngobrol tentang isu-isu perempuan seperti kegiatan sehari-hari perempuan di negara asal ibu-ibu ini, menstruasi, mencegah kekerasan seksual sejak dini, dll. Savy Amira datang bukan expert dalam menyulam, melainkan hanya sekedar bisa dan tak pernah menjadi salah satu hobby yang dikerjakan secara tekun. Kami hanya menunjukkan berbagai pola dalam youtube yang dapat dicontoh oleh ibu-ibu dan mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Usut punya usut, ternyata kegiatan menyulam adalah kegiatan “wajib” bagi perempuan di Afghanistan. Berbeda motif, mereka menyulam sejak masa menginjak usia kanak-kanak dan menjadi kebiasaan di usia remaja dan dewasa menjelang pernikahan. Yang disulam beraneka ragam, seperti misalnya korden jendela, taplak meja, sprei dan alas makan. Ketika mereka menikah, hasil sulaman tersebut dibawa ke rumah mereka tinggal dengan suami. Dalam mengisi hari-hari sebagai istri dan ibu, menyulam merupakan satu kegiatan kolektif yang dilakukan bersama dengan perempuan-perempuan lain di sekitar rumah mereka, setelah selesai mengerjakan pekerjaan domestik seperti mememasak dan mengurus anak. Alhasil, mereka adalah suhu dalam menyulam dengan motif-motif geometris, yang dilakukan tanpa menggambar pola sebelumnya, melainkan dengan merunut hitung serat kain. Hebat bukan? Tak heran ketika savy amira diminta mengajari pola namun masih dengan error-errornya, mereka bertanya, “Teacher, did you forget?! Do you know how to do it or not?” Akhirnya Savy Amira harus mengakui, bahwa justru kamilah yang belajar banyak dari mereka.