Penulis: Eka Wulan Sari (mahasiswa magang Universitas Muhammadiyah Malang)
Savy Amira bekerja sama dengan Wiloka Society Peer Group Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan Hope Helps ITS, serta didukung oleh platform dating app OMI menyelenggarakan acara talkshow “Memelihara Ruang Aman Perempuan di Ranah Digital: Mengenali dan Melawan Love Scam Berbasis AI di Dunia Dating Online”. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Minggu, 20 September ini dilaksanakan secara luring di Ruang Serbaguna Fakultas Psikologi UBAYA, Jl. Kalirungkut, Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Talkshow ini hadir di tengah kekhawatiran terhadap berkembangnya fenomena love scam berbasis AI di platform dating app. Perempuan menjadi salah satu kelompok yang rentan menghadapi modus penipuan tersebut. Selain berpotensi menyebabkan kerugian finansial, terdapat juga dampak psikologis dari love scam yang seringkali luput dari perhatian. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami bagaimana love scam terjadi serta mengenali perkembangan modusnya di tengah kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia dating online.

Kegiatan talkshow ini menghadirkan tiga orang narasumber serta dihadiri oleh kurang lebih 60 peserta. Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Savy Amira, Siti Mazdafiah, dan perwakilan platform dating app OMI, Lukas ling. Usai sambutan, kegiatan berlanjut pada sesi utama talkshow yang diawali dengan pengenalan moderator dan ketiga narasumber. Sesi diskusi dipandu oleh Siti Yunia Mazdafiah selaku Ketua Savy Amira sebagai moderator. Pembahasan diawali dengan perspektif mengenai pengalaman korban dan kerentanan terhadap love scam, kemudian dilanjutkan dengan aspek keamanan digital serta langkah yang dapat dilakukan ketika menjadi target penipuan.
Love scam merupakan bentuk penipuan yang dilakukan dengan membangun hubungan emosional palsu untuk memperoleh keuntungan, baik secara finansial, emosional, maupun melalui eksploitasi. Dalam pemaparannya, Rumaysha, selaku Anggota Satgas PPKS Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) unsur dosen, membagikan sejumlah kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang terjadi di ITS. Berdasarkan informasi yang disampaikan, terdapat sembilan kasus KBGO yang tercatat sejak awal tahun hingga September, dengan korban dalam kasus-kasus tersebut merupakan laki-laki. Salah satu kasus yang disampaikan melibatkan peretasan akun dan penyalahgunaan foto korban. Pelaku menggunakan AI untuk merekayasa sekitar 25 foto korban sehingga tampak seolah-olah menawarkan layanan open BO, kemudian menyebarkannya tanpa sepengetahuan korban. Rumaysha menekankan bahwa meskipun foto tersebut merupakan hasil rekayasa, dampaknya tetap dapat mengganggu dan memengaruhi kondisi korban. Lebih lanjut, Rumaysha menyampaikan bahwa perempuan termasuk kelompok yang rentan menjadi korban love scam. Ia menyebutkan sekitar 60% korban merupakan perempuan, yang menurutnya dapat dipengaruhi oleh tekanan sosial dan ekspektasi gender tradisional, stereotip mengenai kerentanan emosional perempuan sehingga dianggap lebih mudah dimanipulasi, serta kondisi seperti kesepian, sedang lajang, atau baru mengalami putus hubungan.
Pembahasan dilanjutkan oleh Iptu Wiwit dari Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Timur. Dalam pemaparannya, Iptu Wiwit menyampaikan bahwa terdapat lebih dari 53 korban love scam yang teridentifikasi di Jawa Timur dan sekitarnya sepanjang 2026, dengan total kerugian mencapai Rp1,1 miliar dan tiga tersangka yang telah ditangkap. Ia juga menjelaskan bahwa korban juga tidak terbatas pada warga dalam negeri, karena pelaku dapat menyasar individu dari luar negeri. Selain itu, Iptu Wiwit menjelaskan bahwa pelaku dapat menggunakan identitas palsu, termasuk menyamar dengan identitas gender yang berbeda. Beberapa ciri visual yang dapat menjadi indikasi yaitu adanya rekayasa digital atau deepfake, seperti ketidaksesuaian gerakan bibir dengan audio, kedipan mata yang tidak natural, serta distorsi bayangan di sekitar pipi dan leher.
Dalam menghadapi potensi love scam, Iptu Wiwit mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan memberikan informasi pribadi, seperti alamat rumah, kendaraan, nomor polisi, nomor telepon, maupun data pribadi lainnya. Korban yang telah menjadi target dapat segera menghentikan transaksi, mengamankan bukti digital, dan melaporkan kasus kepada SPKT Ditressiber Polda Jatim atau ke pihak berwenang lainya. Bukti yang perlu disiapkan antara lain screenshot percakapan, bukti transaksi, serta tautan atau informasi kontak yang berkaitan dengan pelaku.
Selanjutnya, Tiwi, selaku Co-Founder Savy Amira dan Direktur KSGK Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, memperkuat pembahasan sebelumnya melalui materi tentang “Menjaga Batas, Agency, dan Keamanan Relasional dalam Dating Online.” Tiwi menjelaskan bahwa love scam berlangsung melalui proses yang panjang dan tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dapat mempengaruhi identitas diri korban karena hubungan yang diyakini nyata ternyata merupakan hasil manipulasi. Menurut Tiwi, setelah pelaku membangun keterikatan emosional, seperti kepercayaan dan kedekatan, hubungan tersebut dapat berubah menjadi tekanan bagi korban. Ketika penipuan terungkap, korban dapat merasa malu, bodoh, dan tertipu. Kondisi tersebut semakin berat karena victim blaming di Indonesia masih kerap terjadi, sehingga korban cenderung memilih untuk menutup diri dan semakin terisolasi.
Dalam pemaparannya, Tiwi juga menjelaskan pola-pola pendekatan yang digunakan pelaku love scam. Dan jika seseorang terdampak love scam, Tiwi menekankan pentingnya mengurangi rasa malu dan mencari bantuan dari orang yang dipercaya. Sementara itu, ketika menemukan seseorang yang menjadi korban, dukungan sebaiknya diberikan melalui solidaritas, bukan dengan menyalahkan korban.
Setelah seluruh narasumber menyampaikan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama peserta. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait fenomena love scam dan keamanan dalam berinteraksi di dunia dating online. Pihak platform dating app OMI turut membagikan beberapa tips untuk menjaga keamanan saat menggunakan dating app. Beberapa tips tersebut sebagai berikut:
- Tetap berkomunikasi di dalam platform pada tahap awal: Memanfaatkan fitur obrolan resmi pada tahap awal untuk mendapatkan perlindungan dari sistem keamanan platform.
- Prioritaskan pengguna yang telah terverifikasi: Memanfaatkan Verified Badge sebagai salah satu indikator awal untuk mengenali akun yang telah melalui proses verifikasi.
- Pisahkan hubungan emosional dari urusan finansial: Waspada terhadap segala bentuk permintaan uang, investasi, atau data pribadi sensitif.
- Lakukan pertemuan offline dengan aman: Memilih lokasi publik yang ramai untuk pertemuan pertama dan selalu menginformasikannya kepada kerabat.
Setelah sesi diskusi berakhir, kegiatan ditutup dengan pemberian sertifikat penghargaan dan kenang-kenangan kepada para narasumber.
Silakan akses materi lengkap talkshow melalui https://bit.ly/materitalkshowlovescam