{"id":714,"date":"2018-07-02T05:41:09","date_gmt":"2018-07-02T05:41:09","guid":{"rendered":"https:\/\/savyamirawcc.com\/?post_type=publikasi&#038;p=714"},"modified":"2024-07-17T12:05:46","modified_gmt":"2024-07-17T05:05:46","slug":"konseling-berbasis-feminisme-membongkar-budaya-membantu-penyintas-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/konseling-berbasis-feminisme-membongkar-budaya-membantu-penyintas-2\/","title":{"rendered":"Konseling Berbasis Feminisme: Membongkar Budaya \u00e2\u20ac\u02dcMembantu\u00e2\u20ac\u2122 Penyintas"},"content":{"rendered":"<p><strong><em><b><i>\u00e2\u20ac\u0153Alat sang tuan tidak akan pernah membongkar rumah dari tuan itu sendiri. Apa artinya kalau alat patriarki yang rasis digunakan untuk memeriksa produk patriarki itu sendiri? Kalaupun perubahan itu mungkin dan dibolehkan, bukankah ia akan bersifat terbatas?\u00e2\u20ac\u009d -Audre Lorde.\u00c2\u00a0<\/i><\/b><\/em><\/strong><\/p>\n<p>Mungkin, bagi kita, sudah jelas apabila bukanlah hal yang masuk akal jika dalam menghadapi kekerasan seksual, kita\u00c2\u00a0menggunakan &#8220;alat-alat tuan&#8221; (patriarki) yang secara instititusional mengizinkan dan melanggengkan kekerasan berbasis gender.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Lantas, kita mungkin berpikir bahwa teknik konseling mainstream dan praktik \u00e2\u20ac\u02dcmembantu penyintas perempuan\u00e2\u20ac\u2122 konvensional sudah pasti bebas dari\u00c2\u00a0nilai pelanggeng penindasan perempuan.<\/p>\n<p>Sayangnya, ilmu pengetahuan dan pengandaian konsepsi (pre-conceived notion) yang mungkin kita terima begitu saja seringkali bersifat konstruktivis. Sebagai\u00c2\u00a0produk sosial, ia akan cenderung untuk\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0tercemari oleh budaya-budaya yang dilanggengkan pihak penguasa. Seringkali, pengandaian prakonsepsi, pemikiran, norma dan mitos yang ada, serta-serta ilmu mainstream bersifat patriarkis. Lha, kok bisa? Perlu diingat bahwa simbiosis kapitalisme-patriaki yang tak bisa dipisahkan dan bagai bayi kembar yang tak bisa dipisahkan, dikotomi antara kapitalisme dan patriarki ini sendiri pun sudah semakin kabur. Padahal, pihak penguasa sendiri menggunakan modus operandi bersifat kapitalis untuk melanggengkan kekuasaannya. Klaim De Vauth, misalnya, dengan menggunakan ilmu inilah, aparat produksi ilmu telah mengkonstruksi dan melanggengkan penindasan terhadap perempuan dengan sadar, sengaja dan berkelanjutan.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Oleh sebab itu,\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0menjadi hal yang sangat penting untuk terus mendekontruksi paradigma, dan \u00e2\u20ac\u02dcbudaya\u00e2\u20ac\u2122\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0yang sering dipakai dalam \u00e2\u20ac\u02dcmembantu\u00e2\u20ac\u2122 dan \u00e2\u20ac\u02dcmemberdayakan\u00e2\u20ac\u2122 penyintas kekerasan seksual.\u00c2\u00a0 Salah satunya adalah melalui konseling berbasis feminisme.<\/p>\n<p>Sebelum membahas konseling berbasis feminism lebih lanjut, \u00c2\u00a0ada baiknya jika membongkar apa yang bisa disebut sebagai budaya \u00e2\u20ac\u02dcnafsu (untuk) membantu\u00e2\u20ac\u2122, atau bahkan lebih mengarah ke \u00e2\u20ac\u02dcobsesi untuk memberdayakan\u00e2\u20ac\u2122. Seringkali kita menganggap bahwa adalah hal yang perlu untuk \u00e2\u20ac\u02dcmemberdayakan\u00e2\u20ac\u2122 dan\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00e2\u20ac\u2122memulihkan\u00e2\u20ac\u2122 penyintas.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Lewat pernyataan yang seolah \u00e2\u20ac\u02dcberniat baik\u00e2\u20ac\u2122 ini, sebenarnya kita sedang melanggengkan status ke-liyan-an perempuan penyintas kekerasan seksual . Operasi bahasa yang kita anggap remeh temeh ini sebenarnya kemudian memberi makna baru dengan kesetimpangan relasi kuasa yang baruyang kemudian diasosiakan dengan penyintas. \u00c2\u00a0Seolah penyintas kemudian dianggap membutuhkan \u00e2\u20ac\u02dculuran tangan\u00e2\u20ac\u2122 dari seorang penolong. Seolah tanpa kita, penyintas tidak akan bisa melanjutkan hidupnya .<\/p>\n<p>Pemberian (pembuatan) peran melalui bahasa dan dikotomi biner penolong\/\u00e2\u20ac\u009dyang ditolong\u00e2\u20ac\u009d di mana penyintas dianggap seseorang yang \u00e2\u20ac\u02dcmembutuhkan uluran tangan\u00e2\u20ac\u2122, ini berarti sama saja dengan menciptakan sebuah relasi kuasa yang baru. Sebuah relasi kuasa di mana penyintas berada pada posisi yang lebih lemah dan \u00e2\u20ac\u02dcmembutuhkan\u00e2\u20ac\u2122 sedangkan konselor yang \u00e2\u20ac\u02dcmembantu\u00e2\u20ac\u2122 berada di atas hierarki sebagai \u00e2\u20ac\u02dcjuruselamat\u00e2\u20ac\u2122. Mengingat penyintas kekerasan seksual yang baru saja mengalami kekerasan yang terjadi karena relasi kuasa, perlukah kita menekankan dan menempatkan penyintas pada kesetimpangan relasi kuasa yang baru?<\/p>\n<p>Terlepas dari niat baik atau tidak, kita harus sadar bahwa sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan dan kecenderungan untuk ingin menjadi \u00e2\u20ac\u02dcpahlawan\u00e2\u20ac\u2122 bagi seseorang. Kasarnya sering disebut sebagai \u00e2\u20ac\u02dcmessiah complex\u00e2\u20ac\u2122.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Ada euphoria tersendiri ketika kita merasa menjadi \u00e2\u20ac\u02dcpenyelamat dunia\u00e2\u20ac\u2122 di mana dunia seolah-olah membutuhkan kita agar bisa tetap berkelanjutan. Misalnya,masyarakat Barat\u00e2\u20ac\u201ddifasilitasi oleh wacana kolonialisme\u00e2\u20ac\u201d sering \u00e2\u20ac\u02dcmengasihani\u00e2\u20ac\u2122 perempuan dari Dunia Ketiga (Third World) yang dianggap \u00e2\u20ac\u02dcterbelakang\u00e2\u20ac\u2122 dan \u00e2\u20ac\u02dcmembutuhkan\u00c2\u00a0pencerahan\u00e2\u20ac\u2122.<\/p>\n<p>Lantas, di mana permasalahannya? Selama kita menganggap kita sebagai juruselamat, kita telah merebut focus dari konseling dari penyintas itu sendiri.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Penekanan akan ada pada kita yang \u00e2\u20ac\u02dcmenolong\u00e2\u20ac\u2122 penyintas.\u00c2\u00a0Sering tidak kita berkata , \u00e2\u20ac\u0153waduh, kalau aku sakit, siapa yang akan menolong mereka?\u00e2\u20ac\u009d atau semacamnya?\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0Kita akan merasa kita \u00e2\u20ac\u02dcmemikul\u00e2\u20ac\u2122 misi mulia dan beban dari hidup orang lain. Di satu sisi kita merasa \u00e2\u20ac\u02dcdibebani\u00e2\u20ac\u2122, tapi bohong jika tidak ada euphoria yang kita dapat dari apa yang kita anggap sebagai beban. Fokusnya bukan lagi pada penyintas, tapi pada kita dan euphoria kita. Penyintas kemudian hadir hanya sebagai seolah-olah objek masturbasi ego. Penyintas hanyalah diperalat menjadi bentuk validasi bahwa kita adalah masyarakat yang \u00e2\u20ac\u02dcmelek\u00e2\u20ac\u2122 penindasan dan merupakan penolong yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, bagi konseling berbasis feminisme, hubungan antara konselor dan konselee bukanlah hubungan antara juruselamat dan orang yang perlu pertolongan validasi. Dalam konseling feminis, hubungan konselor dan konselee adalah setara. Konselor berjalan bersama sebagai sahabat dari konselee, yang berjalan bersama menvalidasi pengalaman satu sama lain, dan saling membongkar nilai masing-masing pribadi yang bisa meremehkan status kemanusiaan satu sama lain.<\/p>\n<p>Bahkan, mengingat pengalaman perempuan adalah sumber teoritis dan sumber empiris, yang mentransformasi nilai, cara pandang dan perspektif kita , penyintas beserta pengalamannya adalah guru kita yang terbaik. Makanya sering kita mendengar \u00e2\u20ac\u0153dalam pengalamannya, mungkin berbeda dari teori\u00e2\u20ac\u009d. Seiring bertambahnya pengalaman, kita akan menemukan cara khas kita dalam berjalan bersama\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0penyintas. Mengingat masing-masing penyintas berbeda satu sama lain, pengalaman penyintas yang unik akan memperkaya perspektif kita. Itulah sehingga penyintas beserta pengalamannya adalah guru kita yang terbaik. Bukankah kata\u00c2\u00a0Paula A Treichler, Feminis \u00e2\u20ac\u02dc\u00e2\u20ac\u009dmementingkan pengalaman individu dan bersama perempuan\u00e2\u20ac\u009d serta &#8220;membangun cerita umum tentang pengalaman mereka dari kasus tunggal\u00e2\u20ac\u009d ?<\/p>\n<p>Perbedaan lain yang mencolok adalah, konseling mainstream\u00e2\u20ac\u201dmaupun ilmu mainstream yang menganut paradigma positivitisme\u00e2\u20ac\u201d dengan bangga mengagungkan netralitas dan menolak untuk berpihak. Padahal, netralitas adalah keberpihakan baru pada sesuatu yang diyakini secara universal dan dominan; Sesuatu yang sangat mungkin merupakan hasil pemaksaan oleh pihak penguasa. Salah satunya adalah nilai bersifat patriarkis, dengan alasan seperti yang dijabarkan sebelumnya.<\/p>\n<p>Berbeda dari ketentuan konseling mainstream pada umumnya di mana konselor harus mengambil jarak dan tidak boleh melibatkan emosi agar hasilnya \u00e2\u20ac\u02dcobjektif\u00e2\u20ac\u2122 dan \u00e2\u20ac\u02dcnetral\u00e2\u20ac\u2122, konseling berbasis feminisme justru mengangap sebaliknya. \u00c2\u00a0Bahkan, sedari awal, konseling berbasis feminisme sedari awal dari awal menyatakan keberpihakannya terhadap penyintas serta pengalaman empirisnya, sehingga ia menolak mencegah keterlibatan dari pengalaman penyintasnya. Ia juga melawan segala sistem yang melanggengkan penindasan terhadap penyintas dengan lantang. Nilai yang dianut kemudian akan menjadi pedoman, basis dan fondasi dalam memetakan dan menuntun kita, serta menentukan metode yang kita pakai dalam konseling. Tanpa keberpihakan yang jelas berarti sama saja dengan tanpa pedoman. Kita akan mudah terombang ambing dan bisa menjadi sasaran empuk untuk ditunggangi. Perlu kita sadari bahwa simbiosis kapitalisme-patriarki ada di mana-mana dan terus menerus mencari mangsa untuk ditunggangi. Akibat dari kegagalan berpihak di tengah-tengah dominasi simbiosis ini? Metode kita akan bisa dipakai untuk memperkuat hierarki dan kesetimpangan kelas dan relasi kuasa dalam setiap relasi, dan ini akan cenderung merasionalisasi setiap kekerasan jenis berbasis gender yang ada.<\/p>\n<p>Selain itu, dengan menolak menjadi netral, ini berarti kita paham sepenuhnya bahwa kekerasan berbasis gender adalah unik dan tidak bisa disamakan dengan kekerasan berbasis lain. Kekerasan berbasis gender umumnya terjadi karena oleh kesetimpangan relasi kuasa berbasis gender ranah privat dan publik, yang dilanggengkan oleh nilai-nilai masyarakat yang bersifat patriarkis. Dalam hal ini, konseling berbasis feminisme bukan berarti gender-blind di mana seolah-olah sudah tidak ada perbedaan serta ketidakadilan kelas dan tidak ada perbedaan ekspektasi dan perlakuan antar gender. Alih-alih kita bersikap adil dan setara terhadap semua gender, dengan menjadi gender-blind, kita malah tidak sadar atau malah sengaja menutup mata atas ada bias gender yang ada pada masyarakat. Padahal, justru ini diakibatkan oleh kesetimpangan relasi kuasa \u00c2\u00a0dan eksploitasinya. Oleh sebab itu, pendekatan konseling feminis harus melibatkan kerangka analisis gender.<\/p>\n<p>Menjadi tidak gender-blind juga berarti sebagai laki-laki, saya tidak bisa sepenuhnya memahami pengalaman dan narasi dari perempuan. Memang perbedaan yang ada bukan intrinsic maupun \u00e2\u20ac\u0153takdir\u00e2\u20ac\u009d apalagi \u00e2\u20ac\u0153kodrat\u00e2\u20ac\u009d, namun ekspektasi masyarakat telah dikonstruksi sedemikian rupa sehingga perempuan mengalami penindasan dan narasi yang unik dan berbeda dari pengalaman yang dialami laki-laki. \u00c2\u00a0Akibatnya, relasi kuasa yang tidak seimbang, dominasi nilai patriarki dan aturan yang dibuat laki-laki \u00c2\u00a0ini bahkan membuat perempuan meragukan eksistensinya sendiri, dalam arti yang tidak dialami laki-laki. \u00c2\u00a0Perempuan diletakkan, bahkan oleh perempuan itu sendiri, menjadi liyan yang eksistensinya harus bergantung pada pengakuan laki-laki yang dianggap (essential). Perempuan dibiasakan untuk \u00c2\u00a0menghirup udara bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi melalui relasinya dengan orang lain. Oleh sebab itu, ada batasan sebagai laki-laki dalam meresapi, mengartikan, memahami dan mentranslasi pengalaman perempuan. Kita tidak boleh memaksakan narasi kita.<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u0153<em><i>To feel someone\u00e2\u20ac\u2122s pain is one thing, and living that pain is another. You might have felt it, but some of us have lived it. Your experiences cannot be the same as mine<\/i><\/em>,\u00e2\u20ac\u009d ujar Writers dan Nagar, salah satu pemikir \u00c2\u00a0dengan paradigma Feminisme yang menawarkan feminisme dari perspektif \u00e2\u20ac\u02dcunik\u00e2\u20ac\u2122 seorang warga India. Ini memanglah benar. Tiap konselor dan penyintas mengalami pengalaman yang unik yang dipengaruhi oleh konteks yang mempengaruhi perspektif penyintas dalam menanggapi pengalaman tersebut. Ini berarti kacamata kita dalam memahami pengalaman orang pun dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita anut serta pengalaman kita. Sehingga, diakibatkan pengalaman yang unik, ada bagian di mana kita tidak bisa memahami perspektif dan pengalaman orang lain sepenuhnya. Oleh sebab itulah, dengan menyadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya terlepas dari nilai-nilai kita, yakni kita tidak bisa menjadi \u00c2\u00a0sepenuhnya objektif, kita menyadari batasan kita sebagai <em><i>sahabat.<\/i><\/em><\/p>\n<p>Yang diperlukan, lantas, adalah metode ala-ala differentiated citizenship. Kita memberi validasi pengalaman penyintas \u00c2\u00a0yang berbeda lalu mempersiapkan mekanisme unik yang dikhususkan dan dimodifikasi unik untuk masing-masing individu, sehingga kita bisa memfasilitasi agar keterbatasan kita tidak menjadi penghalang Jika tidak bisa? Ya, kita mengakui kita semua manusia. Kita bukan Tuhan yang Maha Benar, kita apalagi bukanlah pribadi penyintas tersebut itu sendiri; Lantas, apakah kita berhak untuk memaksakan perspektif kita ke individu penyintas tersebut. Emang siapa kita? Ingat, kita bukanlah otoritas dari hidup dirinya; Kita hanyalah sahabat bagi dia yang seharusnya berjalan bersama-sama, bukannya mendorong dan memaksa dia, memojokkan dia ke dalam sebuah relasi tidak sehat yang baru.<\/p>\n<p>Dengan artikel ini, harapannya kita semua, tak terlepas dari penulis, harus menjadi lebih kritis atas budaya \u00e2\u20ac\u02dcpenanganan\u00e2\u20ac\u2122 kekerasan berbasis gender yang diterima mentah-mentah di masyarakat. Nyatanya, penanganan kekerasan berbasis gender konvensional seringkali mereduksi penyintas menjadi \u00e2\u20ac\u02dckorban\u00e2\u20ac\u2122 yang patut \u00e2\u20ac\u02dcdiberdayakan\u00e2\u20ac\u2122. Acap kali, emphasis direnggut dari penyintas dan pusat perhatian diberikan pada \u00e2\u20ac\u02dckebenaran\u00e2\u20ac\u2122, \u00e2\u20ac\u02dcfakta\u00e2\u20ac\u2122 dan \u00e2\u20ac\u02dcinvestigasi apa yang telah terjadi\u00e2\u20ac\u2122. Selain itu, adalah hal yang ironis jika mengingat kekerasan berbasis gender terjadi karena kesetimpangan relasi kuasa, \u00c2\u00a0tetapi penanganan kekerasannya malah menaruh perempuan menjadi pihak subordinasi dari \u00e2\u20ac\u02dcpenolong\u00e2\u20ac\u2122.<\/p>\n<p>Melalui nilai-nilai patriarkis yang dilanggengkannya, masyarakat sayangnya masih menganggap penyintas tidak bisa \u00e2\u20ac\u02dcmenyelamatkan dirinya\u00e2\u20ac\u2122 tanpa adanya kehadiran diri \u00e2\u20ac\u02dcpenolong\u00e2\u20ac\u2122 dan \u00e2\u20ac\u02dcjuruselamat\u00e2\u20ac\u2122. \u00c2\u00a0Nilai-nilai dan mitos ini yang meremehkan ke-manusiawi-an perempuan penyintas ini justeru terinternalisasi di diri penyintas. Penyintas kemudian tidak mempercayai kapasitas dirinya sendiri, dan lucunya, masyarakat merasa \u00e2\u20ac\u02dcgregetan\u00e2\u20ac\u2122 \u00c2\u00a0dan \u00e2\u20ac\u02dcgemas\u00e2\u20ac\u2122 melihat \u00e2\u20ac\u02dcketidakmampuan\u00e2\u20ac\u2122 penyintas. Kadang, ketergantungan penyintas yang baru terhadap konselor tak sengaja diciptakan akibat hal ini karena kegagalan kita menyadari hal ini. Ini justeru malah menjerumuskan penyintas ke jurang kesetimpangan hierarki relasi kuasa yang baru.<\/p>\n<p>Sejatinya, seperti yang ditekankan berulang-ulang, \u00c2\u00a0pengalaman perempuan merupakan sumber pengetahuan dan sumber perlawanan terhadap penindasan. Namun, kondisi yang rentan menjerumuskan penyintas perempuan inilah yang menjadi penyebab kenapa pengalaman perempuan yang dikondisikan dan didisiplinkan sedemikian rupa sehingga pengalaman perempuan bisa digunakan <strong><em><b><i>oleh masyarakat<\/i><\/b><\/em><\/strong>\u00c2\u00a0sebagai agen opresif yang lain.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, selalui melalui validasi \u00c2\u00a0pengalaman penyintas perempuan serta solidaritas, demistifikasi mitos-mitos yang meremehkan kemanusiawian perempuan perlu terus dilakukan di seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyintas. Di sini konseling berbasis feminism hadir untuk menyadarkan \u00c2\u00a0kembali masyarakat bahwa perempuan penyintas itu adalah titik tolak hidupnya sendiri, serta hanya dirinya sendirilah yang mampu menjadi agen katalisis untuk pembebasan dirinya.<\/p>\n<p>Idealnya, kita menjadi sahabat penyintas; Sahabat yang berjalan bersama; Sahabat yang saling belajar; Saling memetik pelajaran maupun bahan hiburan dari satu sama lain; Sahabat yang\u00c2\u00a0saling mengkritik mitos-mitos yang telah dijejalkan masyarakat ke diri kita dan mampu mendiskriminasi orang lain. Jangan sampai kita membuat hierarki maupun relasi kuasa yang baru. Mengingat kita semua bisa menjadi mangsa dan pelanggeng (dari)\u00c2\u00a0nilai-nilai perenggut status kemanusiaan seseorang, kita semua perlu terus menerus memperbaharui perspektif kita tentang konseling\u00c2\u00a0berbasis feminis, bersamaan juga dengaan bertambahnya pengalaman baru dari kawan-kawan lain.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00e2\u20ac\u0153Alat sang tuan tidak akan pernah membongkar rumah dari tuan itu sendiri. Apa artinya kalau alat patriarki yang rasis digunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":718,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=714"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/714\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2540,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/714\/revisions\/2540"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}