{"id":454,"date":"2011-12-02T00:53:50","date_gmt":"2011-12-02T00:53:50","guid":{"rendered":"https:\/\/savyamirawcc.com\/?post_type=publikasi&#038;p=454"},"modified":"2024-07-17T12:06:01","modified_gmt":"2024-07-17T05:06:01","slug":"perempuan-dan-hivaids","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/perempuan-dan-hivaids\/","title":{"rendered":"PEREMPUAN DAN HIV\/AIDS"},"content":{"rendered":"<p>HIV\/AIDS di Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun 1987, adalah tahun pertama Indonesia kita tercinta menemukan kasus orang terinfeksi HIV\/AIDS.\u00c2\u00a0 Pada saat itu belum banyak orang yang memahami apa itu HIV-AIDS, tetapi lambat laun bermunculan orang-orang yang mendedikasikan dirinya secara serius dalam dunia HIV\/AIDS ini sehingga HIV\/AIDS mencapai pemahaman seperti apa yang kita ketahui sekarang ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada awal pemunculannya, HIV\/AIDS identik dengan kematian. Namun dengan berkembangnya berbagai penelitian dan penemuan-penemuan baru di dunia farmasi, maka sekarang HIV\/AIDS sudah termasuk dalam gangguan kesehatan yang dapat dikendalikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masyarakat Indonesia secara umum belum terlalu memahami apa itu HIV\/AIDS dan masih banyak sekali anggota masyarakat yang mengaitkan HIV\/AIDS dengan perilaku moral, sehingga ODHA (Orang Dengan HIV\/AIDS) belum sepenuhnya diterima di tengah masyarakat kita.\u00c2\u00a0 Persepsi-persepsi yang kurang tepat masih banyak mendominasi pemikiran anggota masyarakat awam dimana-mana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apapun persepsi masyarakat tentang HIV\/AIDS maupun ODHA, penularan HIV\/AIDS terus berlangsung di Indonesia, data mutakhir yang tercatat di Ditjen PP&amp;PL Kemenkes RI menunjukkan bahwa antara April sampai dengan Juni 2011, tercatat 2352 ODHA baru, yang berarti secara kumulatif jumlah ODHA yang tercatat di Indonesia sejak April 1987 sampai dengan Juni 2011 adalah 26483.\u00c2\u00a0 Sekitar 30% diantaranya perempuan.\u00c2\u00a0 Menurut faktor risikonya, kebanyakan ODHA tertular (lebih dari 50%) melalui hubungan heteroseksual.\u00c2\u00a0 Dari pengalaman konseling dengan ODHA perempuan saya menemukan bahwa beberapa perempuan mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV\/AIDS setelah melahirkan bayi yang HIV positif.\u00c2\u00a0 Padahal dia waktu menikah masih perawan dan satu-satunya pasangan seksualnya adalah suaminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data yang cukup menggelisahkan muncul dari kategori umur ODHA mulai terinfeksi HIV, hampir 50% tertular pada usia 20-29 tahun.\u00c2\u00a0 Usia produktif dan usia yang menurut data statistik terakhir di luar usia pernikahan (menurut data statistik usia pernikahan perempuan di negara kita sekarang adalah 32 tahun).\u00c2\u00a0 Jadi dapat kita bayangkan, di luar sana banyak anak muda perempuan dan laki-laki yang belum terikat pernikahan sudah menjadi ODHA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Risiko perempuan tertular HIV<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti yang sudah diangkat dari data yang ada, kemungkinan terbesar penularan HIV pada perempuan berasal dari hubungan heteroseksual.\u00c2\u00a0 Hubungan heteroseksual tidak berarti hubungan di dalam pernikahan, tetapi bisa juga hubungan pranikah.\u00c2\u00a0 Data dari penelitian Pilar PKBI dalam baseline survey\u00c2\u00a0 perilaku seksual mahasiswa di Jawa Tengah pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 20.4% responden telah melakukan intercourse dengan pacar di rumah atau dengan pekerja seks untuk memenuhi kebutuhan biologis (53,8%) dan sebagai ungkapan tanda cinta (42,3%).\u00c2\u00a0 Tidak tertutup juga perempuan tertular HIV\/AIDS setelah menjadi korban perkosaan.\u00c2\u00a0 Data tentang ini belum ada, tetapi dari pengalaman konseling, saya pernah menemukan seorang ODHA yang mendapat status barunya itu setelah diperkosa sejumlah pemuda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini salah satu kontributor terbesar untuk penularan HIV\/AIDS adalah pemakai narkoba suntik, sekitar 30% dari ODHA tertular melalui pemakaian narkoba suntik.\u00c2\u00a0 ODHA perempuan bisa jadi seorang pemakai narkoba suntik yang berbagi jarum dengan pasangan atau teman-temannya.\u00c2\u00a0 Bisa juga ia seorang perempuan yang tidak memakai narkoba suntik, tetapi melakukan hubungan seks dengan pasangannya, yang seorang pemakai narkoba suntik.\u00c2\u00a0 Tidak tertutup kemungkinan, adanya seorang perempuan yang memakai narkoba suntik dengan cara berbagi jarum dengan pasangan\/teman-teman dan melakukan hubungan seksual baik dengan pasangan maupun dengan teman-teman sesama pemakai narkoba suntik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak bisa dilupakan adanya kemungkinan penularan HIV\/AIDS melalui transfusi darah.\u00c2\u00a0 Saya pernah menemukan kasus, seorang remaja putri yang tidak pernah menjadi pemakai narkoba suntik, belum pernah berpacaran, tetapi menunjukkan gejala-gejala AIDS.\u00c2\u00a0 Setelah dites ternyata positif dan waktu ditelusuri perjalanan hidupnya, sekitar 10 tahun yang lalu dia pernah mendapat 3 kantong darah karena operasi usus buntu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penularan yang paling mengenaskan adalah penularan perinatal dari ibu yang sudah terinfeksi.\u00c2\u00a0 Dalam banyak kasus, ibu baru mengetahui bahwa dirinya sudah terinfeksi HIV\/AIDS setelah melahirkan seorang anak yang tidak bisa gemuk, diare terus menerus, batuk tidak berhenti dan luka-luka sariawan di mulutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara umum, perempuan memang rentan untuk teinfeksi HIV, beberapa faktor yang menyebabkannya, antara lain adanya kesenjangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki.\u00c2\u00a0 Kesenjangan ini sering menyebabkan perempuan terlibat dalam perilaku seks yang tidak aman.\u00c2\u00a0 Banyak laki-laki yang menekan bahkan memaksa perempuan (baik istri, pacar maupun pekerja seks) untuk melakukan seks yang tidak aman,\u00c2\u00a0 yaitu melakukan hubungan seks tanpa kondom.\u00c2\u00a0 Karena sampai sekarang pada umumnya HIV ditularkan dari laki-laki ke perempuan, maka perempuan berada dalam posisi berisiko untuk tertular.\u00c2\u00a0 Dalam banyak kesempatan, walaupun tidak ada paksaan, banyak perempuan yang enggan untuk menyarankan perilaku seks yang aman pada pasangannya, karena takut disakiti atau ditinggalkan oleh pasangannya.\u00c2\u00a0 Dalam sebuah studi di Amerika tampak bahwa perempuan Afrika-Amerika yang tergantung secara ekonomi pada pasangannya tidak pernah menawarkan kondom saat akan melakukan hubungan seksual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemakain narkoba suntik, seperti telah dipaparkan di atas tadi, saat ini merupakan salah satu kontributor yang signifikan untuk menambah jumlah ODHA baru.\u00c2\u00a0 Negara kita sudah bukan lagi konsumen narkoba, tetapi juga produsennya.\u00c2\u00a0 Pertambahan jumlah pecandu narkoba suntik di tanah air tidak dapat diabaikan, penularan yang signifikan semakin lama semakin jelas dari perilaku pemakaian narkoba suntik ini.\u00c2\u00a0 Program-program rehabilitative untuk pemakai narkoba suntik belum terlalu banyak dan tingkat keterjangkauannyapun rendah sekali.\u00c2\u00a0 Dalam banyak kasus terjadi risiko dobel pada pekerja seks yang juga memakai narkoba suntik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riset-riset yang berkaitan dengan perlindungan perempuan terhadap HIV\/AIDS belum banyak dilakukan.\u00c2\u00a0 Misalnya seorang perempuan yang ingin hamil\u00c2\u00a0 secara normal maupun melalui program bayi tabung tidak dapat dilindungi dari kemungkinan tertular HIV dari pasangan atau donor spermanya.\u00c2\u00a0 Seharusnya melalui penelitian-penelitian yang intensif dapat ditemukan bahan-bahan tertentu yang dapat membunuh kuman-kuman HIV di rahim perempuan tanpa menutup kemungkinan perempuan untuk hamil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perempuan lebih sering dipandang sebagai orang yang menjadi sumber infeksi HIV bagi seorang laki-laki atau anak-anak, bahkan dalam banyak kasus perempuan disalahkan.\u00c2\u00a0 Hal ini menyebabkan kesulitan bagi seorang perempuan untuk mengakses layanan perawatan HIV bila ia tidak menginfeksi anak atau suaminya.\u00c2\u00a0 Padahal belakangan ini banyak kasus yang memberikan bukti sebaliknya, perempuan justru terinfeksi karena suaminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Layanan kesehatan di sekitar kita sekarang ini belum sensitif terhadap kebutuhan perempuan, sehingga dalam banyak kasus perempuan baru mencari pertolongan setelah mencapai tahap AIDS.\u00c2\u00a0 Banyak perempuan yang tidak mendapat perawatan untuk penyakit menular seksual yang merupakan pintu dari masuknya virus HIV.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perempuan terbiasa untuk lebih memikirkan dan mendahulukan kesejahteraan orang lain daripada dirinya sendiri.\u00c2\u00a0 Kewajiban perempuan untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan keluarganya dulu seringkali menyebabkan ia mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.\u00c2\u00a0 Pada umumnya perempuan adalah perawat utama di dalam keluarga, termasuk untuk anggota keluarga yang AIDS.\u00c2\u00a0 Seringkali dalam menjalankan peranannya itu perempuan tidak mendapat dukungan, sehingga kepentingannya untuk merawat diri sendiri masuk dalam prioritas terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penghasilan perempuan pada umumnya lebih kecil dari laki-laki, dan tidak jarang sebagai seorang single parent, seorang perempuan harus menanggung kebutuhan finansial seluruh anggota keluarganya, sehingga ia tidak punya cukup uang untuk merawat dirinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak perempuan sulit mengakses terapi ARV (antiretroviral\/obat bagi orang yang terinfeksi HIV\/AIDS) karena keterbatasan dana yang dia miliki.\u00c2\u00a0 Walaupun pada saat ini pemerintah sudah memberikan subsidi cukup besar untuk perawatan ODHA, di luar perawatan yang tersedia, seorang perempuan yang ingin menjangkau layanan itu perlu memiliki sedikit modal untuk transportasi, membayar orang yang menunggui anaknya, menyiapkan konsumsi di rumah pada saat ia harus ke rumah sakit dan berbagai urusan domestik yang menjadi tanggung jawabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">PMTCT adalah program perawatan HIV\/AIDS yang diciptakan untuk ibu dan anak.\u00c2\u00a0 Program layanan ini tercipta karena kasus-kasus gangguan kesehatan anak akibat terinfeksi HIV dari ibu yang positif semakin nyata dan signifikan.\u00c2\u00a0 Penerapan program ini diharapkan dapat mencegah penularan dari ibu ke anak.\u00c2\u00a0 Sehingga jumlah anak-anak tidak berdosa yang terinfeksi HIV semakin berkurang atau tidak ada lagi.\u00c2\u00a0 Pada dasarnya pencegahan melalui program PMTCT ini bukan hanya membantu anak agar tidak terinfeksi HIV tetapi juga membantu ibunya yang telah terinfeksi HIV untuk tetap sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh data estimasi risiko dan waktu penularan dari ibu kepada anak, HIV dapat menular pada saat perinatal, waktu bayi masih di dalam kandungan (kemungkinan 17% dari populasi), pada saat melahirkan (8%) dan pada saat menyusui (10%).\u00c2\u00a0 Secara umum, seluruhnya tanpa ASI kemungkinan penularannya adalah 20-25%, kalau diberikan ASI selama 6 bulan adalah 25-30% dan kalau diberikan ASI sampai 18-24 bulan 30-35%.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari data tersebut di atas, pemerintah Indonesia mengadopsi program PMTCT ini dari UNAIDS\/WHO.\u00c2\u00a0 Mengikuti strategi 4 prong yang telah ditetapkan:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prong 1: untuk perempuan usia subur, mencegah perempuan yang masih negatif untuk tidak terinfeksi HIV<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prong 2: untuk perempuan yang telah terinfeksi HIV, mencegah kehamilan tanpa rencana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prong 3: untuk perempuan yang telah terinfeksi HIV yang sudah hamil, mencegah penularan HIV dari ibu ke anak<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prong 4:\u00c2\u00a0 untuk perempuan HIV yang telah menginfeksi anak dan keluarganya, disediakan layanan terapi dan dukungan untuk menjaga kesehatan mereka<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam praktiknya, program PMTCT ini tentunya menjangkau para perempuan yang telah menikah dan mengikuti program kesehatan ibu anak di layanan kesehatan baik pada tingkat puskesmas maupun rumah sakit propinsi.\u00c2\u00a0 Perempuan-perempuan lajang, dalam usia produktif, yang telah aktif secara seksual tidak memiliki akses untuk menjangkau layanan ini. Walaupun sesungguhnya prong 1 seharusnya menjangkau mereka juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhatian terhadap besarnya potensi penularan HIV terhadap para perempuan lajang dalam usia produktif masih sangat kurang, padahal saat ini partisipasi perempuan dalam pembangunan tidak dapat diragukan lagi.\u00c2\u00a0 Di tengah-tengah tuntutan terhadap perempuan yang masih tidak seimbang dengan tuntutan terhadap laki-laki dan beban ganda yang masih menjadi bagian dari keseharian hidup seorang perempuan, perhatian terhadap kesehatan para perempuan masih harus kita perjuangkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tantangan kita semua<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkaitan dengan penularan HIV, perhatian terhadap keberagaman perempuan saat ini perlu ditingkatkan.\u00c2\u00a0 HIV adalah virus perilaku, penularannya tidak begitu mudah seperti halnya virus influenza.\u00c2\u00a0 Salah satu cara penularan yang paling signifikan adalah penularan melalui hubungan heteroseksual.\u00c2\u00a0 Pemahaman terhadap hubungan ini perlu diperluas, mengingat situasi dan kondisi saat ini menunjukkan bahwa hubungan seksual heteroseksual sudah dilakukan oleh para perempuan lajang di luar hubungan pernikahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Promosi kesehatan sudah perlu didisain untuk para perempuan mandiri yang langkahnya semakin panjang.\u00c2\u00a0 Kesehatan perempuan mencakup kemampuannya untuk memahami gaya hidup sehat yang selaras dengan irama hidupnya.\u00c2\u00a0 Kesehatan mental perempuan mencakup kesehatan fisik dan rasa mampu menjaga dirinya sendiri dari ancaman kesehatan yang serius.\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Para perempuan perlu diberi akses yang seluas-luasnya untuk memahami berbagai ancaman kesehatan tersembunyi yang potensial untuk mengganggu eksistensinya sebagai perempuan yang berdaya dan produktif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebiasaan untuk menjalankan gaya hidup sehat dan memeriksakan kondisi kesehatan termasuk kesehatan mental perlu dipromosikan kepada semua perempuan di sekitar kita.\u00c2\u00a0 Bahkan hidup dalam mahligai perkawinan yang sempurna, tidak menjamin seorang perempuan akan sehat lahir batin seumur hidupnya.\u00c2\u00a0 Hanya kemampuan untuk menyiasati berbagai tantangan hiduplah yang bisa menjaga kesehatan mental seorang perempuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkaitan dengan penularan HIV\/AIDS, standar ganda, peran ganda, beban ganda dan berbagai bias dalam persepsi terhadap perempuan perlu kita perangi.\u00c2\u00a0 Setiap perempuan harus memiliki akses untuk informasi tentang penularan HIV\/AIDS, diapun harus bisa melindungi diri sendiri, belajar berkomunikasi secara asertif, bernegosiasi dengan pasangan seksualnya untuk menjalankan seks aman. Pada akhirnya, semua perempuan harus belajar untuk mempercayai diri sendiri dan mempertahankan haknya agar tidak tertular HIV. (astrid\/031211)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HIV\/AIDS di Indonesia Tahun 1987, adalah tahun pertama Indonesia kita tercinta menemukan kasus orang terinfeksi HIV\/AIDS.\u00c2\u00a0 Pada saat itu belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-454","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=454"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2528,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions\/2528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}