{"id":3903,"date":"2026-06-02T14:43:20","date_gmt":"2026-06-02T07:43:20","guid":{"rendered":"https:\/\/savyamirawcc.com\/?p=3903"},"modified":"2026-06-02T14:43:53","modified_gmt":"2026-06-02T07:43:53","slug":"gerbong-khusus-perempuan-dan-rasa-aman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/gerbong-khusus-perempuan-dan-rasa-aman\/","title":{"rendered":"Gerbong Khusus Perempuan dan Rasa Aman"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_3904\" aria-describedby=\"caption-attachment-3904\" style=\"width: 770px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-3904\" src=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-1.08.52-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"770\" height=\"470\" srcset=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-1.08.52-PM.jpeg 770w, https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-1.08.52-PM-300x183.jpeg 300w, https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-1.08.52-PM-768x469.jpeg 768w, https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-1.08.52-PM-18x12.jpeg 18w\" sizes=\"(max-width: 770px) 100vw, 770px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3904\" class=\"wp-caption-text\">Foto Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur. Foto oleh: Kevin Seftian (Magdalene.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alex (Mahasiswa Magang Savy Amira WCC)<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Tasya (Staff Savy Amira WCC)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecelakaan kereta di Bekasi beberapa waktu yang lalu tidak hanya meninggalkan kerugian materiil dan duka pada masyarakat. Bagi perempuan pengguna KRL, kejadian ini juga menyadarkan mereka bahwa rasa aman itu jauh lebih rapuh dari yang dibayangkan. Selama ini gerbong khusus perempuan sering dianggap sebagai ruang aman di tengah hiruk pikuk kereta komuter. Gerbong yang selama ini menjadi tempat perempuan untuk bisa berdiri, duduk, atau sekedar bernafas dari lelah sepulang kerja tanpa harus merasa was-was dari\u00a0 terjadinya pelecehan seksual dari lawan jenis. Namun, gerbong ini menjadi tempat yang justru merenggut nyawa perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit melihat ke belakang, gerbong khusus perempuan bukan sesuatu yang baru. Gerbong perempuan hadir pertama kali pada abad ke-19 di Inggris, bahkan sejak awal perkembangan kereta modern. Pada saat itu kereta api berkembang sebagai simbol modernitas. Ketika itu perempuan yang bepergian sendiri dianggap tidak pantas\u00a0 berada terlalu lama berada di ruang publik. Kemunculan gerbong khusus perempuan juga didasari karena banyaknya kejadian kekerasan seksual di kereta. Salah satu kasus yang terkenal adalah pelecehan seksual yang dilakukan oleh Valentine Baker seorang kolonel militer, terhadap Rebecca Dickinson. Pada akhirnya perusahaan kereta mulai menyediakan kompartemen khusus perempuan. Tapi di saat yang sama, ini menunjukan bahwa sejak awal ruang publik memang tidak pernah aman bagi perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena serupa kemudian muncul di negara-negara lain. Jepang mulai memperkenalkan gerbong khusus perempuan pada 2001, sebagai respon atas kasus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chikan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (pelecehan seksual di kereta), yang tercatat sangat tinggi pada saat itu. Di negara lain seperti India, UEA, Mesir, Brazil, Meksiko, dan Malaysia juga menerapkan kebijakan gerbong khusus perempuan. Meskipun konteks sosialnya berbeda di setiap negara, gerbong khusus perempuan hadir dengan alasan yang hampir sama, yaitu perempuan tidak merasa aman di transportasi umum. Gerbong khusus perempuan hadir bukan karena ingin \u201cmemisahkan\u201d perempuan, tapi karena sistem transportasi yang belum memberikan\u00a0 rasa aman di ruang publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gerbong khusus perempuan di Indonesia pertama kali\u00a0 dikenalkan pada 19 Agustus 2010 oleh PT KAI Commuter Jabodetabek dan mulai beroperasi pada 12 Oktober 2012, sebagai respon atas tingginya kasus pelecehan seksual di transportasi publik. Tercatat pada tahun 2008 sampai 2009, terdapat 242 kasus pelecehan seksual di kereta api. Gerbong khusus perempuan dianggap menjadi sebuah solusi yang tepat untuk mencegah pelecehan seksual di kereta api. Dan sejak saat itu, gerbong khusus perempuan menjadi bagian dari rutinitas harian perempuan pengguna KRL.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gerbong khusus perempuan memang menjadi bentuk perlindungan yang penting bagi banyak perempuan. Ruang ini membantu perempuan merasa lebih aman dan nyaman selama perjalanan. Namun, di saat yang sama, kebijakan ini juga menunjukan bahwa akar permasalahan di ruang publik belum benar-benar terselesaikan. Sejak abad ke-19 hingga saat ini, alasan keberadaan gerbong khusus perempuan hampir tidak berubah. Gerbong khusus perempuan melindungi dan memberi rasa aman dari sesama penumpang, tetapi tidak bisa melindungi dari risiko yang lebih luas secara struktural.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlindungan perempuan struktural mencakup perbaikan seluruh hal secara mendasar termasuk perbaikan infrastruktur, perlunya pemeliharaan secara berkala, yang sering diabaikan. Perlindungan perempuan juga tidak cukup hanya melalui pengawasan dan hukuman. Dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar, termasuk membangun budaya yang tidak menormalisasi kekerasan terhadap perempuan di ruang publik. Persoalan keamanan perempuan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun institusi transportasi. Pendekatan gender transformative approach bagaimana mengubah budaya kekerasan yang merugikan perempuan ini\u00a0 menjadi tanggung jawab semua orang, maupun institusi dengan penegakan sanksi yang jelas bagi pelaku kekerasan dan kampanye agar laki-laki tidak lagi menjadi pelaku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa tahun terakhir, KAI juga mulai melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti penerapan daftar hitam bagi pelaku pelecehan seksual dan pemasangan CCTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">analytic <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di sejumlah area stasiun dan kereta<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Keamanan perempuan di transportasi publik sering dipahami menjadi persoalan yang sempit, sebatas persoalan kekerasan interpersonal antara pelaku dan korban dan jarang dilihat secara holistik gagalnya sistem perlindungan perempuan di Indonesia. Padahal perlindungan perempuan tidak bisa berhenti pada pemisahan ruang semata. Keamanan seharusnya dipahami secara lebih menyeluruh, baik aman dari kekerasan berbasis gender dan sekaligus aman dari kegagalan sistem transportasi. Rasa aman bukan hanya soal siapa yang di dalamnya, tetapi juga bagaimana ruang itu bekerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/www.historytoday.com\/sending-females-rail-history-women-only-carriages\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.historytoday.com\/sending-females-rail-history-women-only-carriages<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/scholarhub.ui.ac.id\/jsgs\/vol7\/iss2\/1\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/scholarhub.ui.ac.id\/jsgs\/vol7\/iss2\/1\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/komnasperempuan.go.id\/siaran-pers-detail\/siaran-pers-komnas-perempuan-perempuan-mendesak-tanggung-jawab-negara-benahi-sistem-transportasi-secara-menyeluruh-dan-responsif-gender\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/komnasperempuan.go.id\/siaran-pers-detail\/siaran-pers-komnas-perempuan-perempuan-mendesak-tanggung-jawab-negara-benahi-sistem-transportasi-secara-menyeluruh-dan-responsif-gender<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/isshinternational.org\/9256\/viewpoint\/women-only-train-cars-sidestep-the-root-issue-of-gender-inequality\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/isshinternational.org\/9256\/viewpoint\/women-only-train-cars-sidestep-the-root-issue-of-gender-inequality\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/world\/2015\/aug\/26\/women-only-train-carriages-around-the-world-jeremy-corbyn\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.theguardian.com\/world\/2015\/aug\/26\/women-only-train-carriages-around-the-world-jeremy-corbyn<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.tokyoweekender.com\/japan-life\/news-and-opinion\/why-japan-women-only-cars\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.tokyoweekender.com\/japan-life\/news-and-opinion\/why-japan-women-only-cars\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/research\/20260428140457-128-730576\/ini-sejarah-alasan-ada-gerbong-kereta-khusus-perempuan\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/research\/20260428140457-128-730576\/ini-sejarah-alasan-ada-gerbong-kereta-khusus-perempuan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/repository.ub.ac.id\/id\/eprint\/115418\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/repository.ub.ac.id\/id\/eprint\/115418<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.galvestonhistorycenter.org\/news\/how-gender-and-sexuality-influenced-the-suffrage-movement\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.galvestonhistorycenter.org\/news\/how-gender-and-sexuality-influenced-the-suffrage-movement<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/hiburan\/pelaku-pelecehan-seksual-di-kereta-masuk-daftar-hitam-20-tahun-2097541\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.tempo.co\/hiburan\/pelaku-pelecehan-seksual-di-kereta-masuk-daftar-hitam-20-tahun-2097541<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/komnasperempuan.go.id\/kabar-perempuan-detail\/komnas-perempuan-dan-pt-kai-berkolaborasi-kampanyekan-anti-pelecehan-seksual-di-kereta-api\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/komnasperempuan.go.id\/kabar-perempuan-detail\/komnas-perempuan-dan-pt-kai-berkolaborasi-kampanyekan-anti-pelecehan-seksual-di-kereta-api<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Alex (Mahasiswa Magang Savy Amira WCC) Editor: Tasya (Staff Savy Amira WCC) Kecelakaan kereta di Bekasi beberapa waktu yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3904,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3903"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3907,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903\/revisions\/3907"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}