{"id":1160,"date":"2020-07-14T09:52:27","date_gmt":"2020-07-14T09:52:27","guid":{"rendered":"https:\/\/savyamirawcc.com\/?p=1160"},"modified":"2024-07-17T12:05:22","modified_gmt":"2024-07-17T05:05:22","slug":"ngocol-1-jatuh-cinta-gimana-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/ngocol-1-jatuh-cinta-gimana-sih\/","title":{"rendered":"NGOCOL #1 JATUH CINTA, GIMANA SIH?"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1162\" src=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-11.41.52-AM.jpeg\" alt=\"\" width=\"499\" height=\"418\" srcset=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-11.41.52-AM.jpeg 499w, https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-11.41.52-AM-300x251.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 499px) 100vw, 499px\" \/><\/p>\n<p>Halo teman-teman muda,<br \/>\nBerikut ini adalah rangkuman dari Seri Ngobrol dan Curhat Online bersama Savy Amira, NgoCOl #1 yang dilaksanakan secara live instagram @savyamira_wcc_surabaya dan @benediktaelsa pada Jumat 3 Juli 2020. Kami membuat resume secara tertulis agar teman-teman yang belum sempat bergabung pada waktu tersebut untuk dapat mengikuti hasil diskusinya. Terimakasih kepada Kak Benedikta Elsa, Voice Global dan Sanglah Institute.<\/p>\n<p>Bene (Host):<br \/>\nSaya diajakin sama teman yang concernnya pada perempuan dan remaja, untuk membawakan tema yang ringan dan dalam, untuk perempuan remaja masa kini. Kita akan ngobrollim tentang cinta. Nanti temen2 bisa tanya2 atau pun curhat. Nara sumbernya siapa? Dari savy amira surabaya, namanya Kak Herlina.<br \/>\nHaloo.. kak Herlina\u00e2\u20ac\u00a6.boleh dijelaskan Savy Amira itu apa?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nSavy Amira adalah lembaga yang memberikan layanan pendampingan pada kekerasan berbasis gender. Jadi misal kamu dikasarin sama pacarmu, dibilang perek. Maka itu masuk dalam kekerasan berbasis gender<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nKita pengen obrolan ini mengalir saja. Kita akan mewakili teman2 di forum. Saya akan mencoba mengambil cerita diri sendiri. Saya pertama kali suka sama cowok wkt sd kls 6. Saya sakin sukanya sama dia. Jadi saya naek sepeda nyamperin rumah dia. Saya seneng aja bisa melihat dia. Meski saya kemudian gak jadian nih sama dia.<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nlihat ujung rumahnya sudah seneng ya?<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nNah betul. Awal jatuh cinta itu bagaimana herlina?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nJadi jatuh cinta itu adalah sesuatu yang alamiah terjadi. Sebagaian besar manusia merasa tertarik secara seksual dengan seseorang, gak harus lawan jenis. Tertarik secara seksual dirasakan oleh 98% orang. Mereka bisa merasakan ketertariakan seksual. sebenarnya yang dikatakan jatuh cinta itu tertatrik secara seksual. Bukan sekedar pinter atau apa. Tapi secara seksual. Tujuan manusia dan makhluk lain berpasangan itu untuk meneruskan keturunan. Paling banyak untuk berkembang biak. Kita tertarik secara seksual itu, banyak org secara lawan jenis, dan sebagian orang pada sesama jenis.<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nJadi kita tertarik pada org lain itu pasti secara seksual ya? Jadi bisa dikatakan didorong oleh instinc alami ya? Kalau tadi saya tertarik kelas 6 SD bukan berarti saya ingin berhubungan secara romantis. Tapi dia tidak suka sama saya. Setelah saya sedikit besar SMP atau SMA. Saya kemudian tertarik lagi dengan orang, usianya sekiar 20tahuan lebih. Saya inget banget baru saat itu mengalami hal-hal yang sifatnya semua serba \u00e2\u20ac\u0153pertama,\u00e2\u20ac\u009d diantaranya ciuman. Saya tidak tahu dan tidak pernah membicarakan tentang hal-hal yang sifatnya kaya ciuman itu. Sebenarnya waktu itu saya risih, saya takut bagaimana sih sebenarnya ciuman itu? Apakah rentang usia bisa memengaruhi cara kita menyikapi cinta itu sendiri?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nSebelum menjawab itu, saya ingin menyampaikan fun fact, tahukan bahwa orang itu lebih ingat ciuman pertama dibanding hubungan seks pertama. Tentang rentang usia ya. Umumnya kita jatuh cinta pada orang yang seumuran. Kita tertarik pada orang yang punya kesamaan baik tujuan. biasanya kita jatuh cinta pd orang yang seumuran. Bahaya soal rentang usia yang jauh adalah, dia jauh lebih berpengalaman dan pengalaman itu biasanya menjadi alasan untuk memanipulasi pasangan agar dia mendapatkan sesuatu. Membuat org lain melakukan apa yang ingin dia peroleh. Pernahkah dia bertanya: Maukah kamu kucium? atau apa pendapatmu tentang ciuman sebelum melakukannya? sebagai bentuk meminta persetujuan? Kita jatuh cinta adalah karena kita pengen mendapatkan keamanan. Kalau aku tidak melakukan apa yang ia inginkan, apa yang terjadi? Kalau kemudian ada ancaman, maka hubungan tersebut sudah tidak memberikan rasa aman. Apakah relasi ini masih perlu dilanjutkan? Keluar dari relasi yang toxic ini tidak mudah.<\/p>\n<p>Masalahnya juga, kita cenderung jatuh cinta bukan hanya jatuh cinta pada orang yang kita anggap baik, tapi pada org yang sebenarnya kita anggap sebagai orang yang \u00e2\u20ac\u0153biasa.\u00e2\u20ac\u009d Contoh: kita suka cowok yang \u00e2\u20ac\u0153cool.\u00e2\u20ac\u009d Cool itu kan cuwek ya, tidak perhatian. Bsa jadi keinginan itu karena kita memiliki ayah sering gak ada di rumah, kalau ayah ada tidak mau ngobrol, ditanya tidak menjawab\u00e2\u20ac\u00a6 kita terbiasa dengan kondisi itu, terbiasa dicuekin, diabaikan, tidak dianggap\u00e2\u20ac\u00a6 maka kemungkinan kita akan mencari pasangan yang modelnya demikian. Jadi bukan karena kita suka\/kagum pada sesuatu yang baik, tapi karena kita mencari \u00e2\u20ac\u0153kebiasaan\u00e2\u20ac\u009d itu\u00e2\u20ac\u00a6 jadi karena ayah \u00e2\u20ac\u0153tidak ada,\u00e2\u20ac\u009d maka kita akan mencari \u00e2\u20ac\u0153yang tidak ada\u00e2\u20ac\u009d tersebut. Atau biasa kita kenal dengan ungkapan \u00e2\u20ac\u0153cowok yang cool\u00e2\u20ac\u009d<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nBagaimana kalau misalnya kita mencintai orang yang tidak baik? Bagaimana kita menyikapi cinta yang membuat kita merasa tidak nyaman?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nManusia memang takut jika merasa sendiri. Bahkan lebih baik bersama pacar yang buruk daripada hidup sendiri. Itu karena pertama, kita ditekan oleh lingkungan, takut diomongin jomblo. Jomblo itu dianggap aneh karena tidak punya pasangan bukan sesuatu yang umum terjadi. Bahkan kadang kita suka membully diri sendiri karena tdk punya pasangan. Orang sering bilang \u00e2\u20ac\u0153Kok sendiri aja, truk aja punya gandengan.\u00e2\u20ac\u009d Sering jadi guyonan dan dimaginalkan. Kita tidak menanggapi gurauan tersebut dengan santai seolah tidak peduli, namun sebenarnya kita menerimanya dengan serius , \u00e2\u20ac\u0153Berarti aku aneh ya kalau gak punya pacar\u00e2\u20ac\u00a6\u00e2\u20ac\u009d Kedua kita sudah terbiasa dengan adanya perlakuan buruk, maka kita lebih memilih diperlakukan buruk daripada tidak diperlakukan apa-apa\/diabaikan. Lebih baik ada yg memperlakukan aku dengan buruk, daripada tidak ada yang nganggap aku, atau tidak diapa-apain. Atau karena kita terbiasa melihat perlakuan ayah ke ibu yang tidak baik, maka kita terbiasa menganggap perlakan tersebut sebagai hal yang biasa, atau bahkan menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar dan seharusnya terjadi.<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nBerarti ejekan-ejekan terhadap jomblo itu membuat kita menjadi berpikir \u00e2\u20ac\u0153siapa saja yang hadir di hadapanku dijadikan pasangan.\u00e2\u20ac\u009d Apakah kita perlu mengubah lingkungan untuk tidak meminggirkan jomblo?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nBisa. Tapi gak juga. Di sini kita mengajak teman-teman untuk lebih baik memiliki relasi yang sehat dan tidak memiliki relasi, daripada memiliki relasi yang toxic. Karena, pacaran yang sehat itu harus membuat kita bertumbuh. makin pintar, makin berprestasi, atau makin-makin yang lain yang lebih baik. Jika relasi kita dengan pasangan membuat kita makin buruk, maka berarti relasi kita sudah toxic. Jika ada kekerasan, maka relasi tersebut adalah relasi yang toxic. Memukul, membentak, bicara dengan nada tinggi, suka melarang-larang, itu kekerasan. Atau, membuat kita sangat tergantung padanya, itu juga kekerasan. Kekerasan itu membuat kita tidak berkembang. Kamu dan pacarmu itu dua orang yang berbeda, bukan satu orang. Kalau selaluuu bersama pacar maka relasi itu termasuk relasi toxic.<br \/>\nAtau kalau kamu merasa dipaksa, apapun itu. Contoh, gak boleh pakai baju tertentu karena dia tidak suka, atau kamu pernah diancam sama dia untuk membuat konten-konten pornografi misalnya. itu juga kekerasan. Ksus semacam itu meningkat 5x lipat di masa pandemi ini. Kalau sudah mengancam gini, sudah pasti tidak sehat.<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nMudah-mudah mereka yang sekarang sedang berelasi dan menydari relasinya ternyata adalah toxic, dapat melakukan refleksi, \u00e2\u20ac\u0153Sebenarnya hubungan ini membawa diriku ke mana?\u00e2\u20ac\u009d<br \/>\nBagaimana caranya supaya kita tdk menjadi korban kekerasan?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nMulai bersikap asertif atau mengungkapkan apa yang tidak disukai pada pacar. Kalau kamu sudah merasa tertekan, maka berarti sudah ada yang gak beres nih.\u00e2\u20ac\u00a6 coba pikirkan kira-kira mau nggak aku diginikan? Jadi bertanya pada diri sendiri ya, apakah relasi ini baik buat aku?<br \/>\nSaya akan menyampaikan fun fact satu lagi mungkin teman-teman perlu waspada: jika kita jatuh cinta, otak kita juga terlibat. Ada reaksi-reaksi tertentu pada otak ketika orang itu jatuh cinta. Perempuan, akan mengajarkan pada otaknya untuk percaya pada orang yang memeluknya lebih dari 20 detik. Jadi waspada ya kalo perempuan tidka ingin percaya jangan membiarkan diri dipeluk lebih dari 20 detik.<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nApa benar kita jatuh cinta itu dari mata turun ke hati?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nKita jatuh cinta itu pada orang yang kelihatan sehat. Orang yang sehat itu biasanya cantik\/ganteng. Wajah atau tubuhnya simetris, sehingga menarik dilihat. Dan, banyak yang jtuuh cinta.<\/p>\n<p>Pertanyaan partisipan diskusi<\/p>\n<p>Q1 : kalau tertarik sama orang itu pasti jatuh cinta ya?<br \/>\nJ : kalau itu ada unsur seksual pasti jatuh cinta. Karena tujuan kita untuk meneruskan keturunan itu tadi. Jadi kalau saat ini masih tertarik, kemudian membayangkan hal-hal yang romantis, maka itu dinamakan cinta.<\/p>\n<p>Q2 : Apakah jatuh cinta selalu nyenengin?<br \/>\nJ : Jadi cinta itu kelihatannya menyenangkan, karena ketika jatuh cinta kita menghasilkan hormon yang dinamakan dopamin. Hormon ini yang memiliki reaksi menimbulkan rasa senang. Karena perasaan nyaman yang ditimbulkan, maka kita melakukan hal-hal yang membuat kita terus mempertahankan hubungan tersebut. Ketika kita patah hati, dopamin ini berhenti bekerja, dan kita merasakan sakit, sehingga kita berusaha mempertahannkan relasi.<br \/>\nJadi meskipun ketika relasi kita toxic, maka kita berusaha untuk terus mempertahankan dopamin ini. Imaginasi tentang romantis itu yang mendorong kita.<\/p>\n<p>Q3 : Bisakah kita tahu seseorang itu toxic atau tidak, sebelum berelasi dengannya?<br \/>\nJ : Bisa kok, seperti misal memperhatikan kata-kata manis yang diucapkan \u00e2\u20ac\u0153Aku mau kamu buat aku saja.\u00e2\u20ac\u009d Ini adalah tanda bahwa pacar posessif, meski dibungkus dengan kata2 manis. Ini maksudnya adalah dia ingin membatasi kita. Hal ini,peringatan bahaya ini tertutup oleh dopamin, yang membuat kita senang.<\/p>\n<p>Q4 : Ada gak hal-hal yang mungkin bagi teman-teman yang sedang tertarik atau menjalani hubungan dengan seseorang, dan berada pada toxic relationship, mengenali tanda-tanda kekerasan itu lebih awal?<\/p>\n<p>J : Kalau kita jatuh cinta kadang-kadang kita banyak dipengauhi oleh banyak hormaon di otak yang tidak masuk akal\u00e2\u20ac\u00a6 tapi kalau ada unsur kekkerasan dan sudah membuat dirimu kehilangan banyak hal: misal teman, kegiatan yang kamu sukai dll, maka perlu bertanya pada diri sendiri, apakah relasi ini perlu diteruskan? Jatuh cinta itu perlu sadar apa yang membuat aku jatuh cinta padanya. Jika kita jatuh cinta, maka kita perlu bertanya, apakah itu baik untuk kita? Untuk orang-orang di sekitar kita?<br \/>\nBerelasi dengan orang yang usianya jauh lebih dewasa biasanya sangat dekat dengan manipulasi. Yang berikutnya coba tanyakan, benarkah kita pacaran dengan terbuka, dimana kita mengenal orang-orang di sekitar pasangan begitu juga sebaliknya. Relasi Backstreet adalah ide yang buruk. Backstreet digunakan oleh orang yang memanipulasi supaya org tidak tahu bahwa kita sedang memanipulasi seseorang. Contoh\u00e2\u20ac\u00a6 tidak cerita pada orangtua\u00e2\u20ac\u00a6.Kalau kamu terpaksa backstreet adalah ide yang baik untuk bercerita pada orang dewasa lain yag bisa kamu percaya, atau orang yang bisa melindungimu jika terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.<\/p>\n<p>Q5 : gagal move on apakah toxic?<br \/>\nj : move on memang susah, move on dengan mudah adalah dengan memiliki relasi baru\u00e2\u20ac\u00a6pacaran dan jatuh cinta itu menimbulkan rasa nyaman.<\/p>\n<p>Q6 : ketika kita bisa keluar dari toxic relationship, kemudian ada rasa bersalah karena meninggalkan rasa bersalah tersebut, bagaimana penjelasannya?<br \/>\nJ : itu bagian dari efek manipulasi, jadi rasa bersalah itu adalah bagian dari manipulasi itu tadi,. Contoh begitu juga kalau kita meninggalkan orang yang sudah melakukan kekerasan pada kita.<\/p>\n<p>Q7 : bagaimana kita menjauhi orang atau mantan yang toxic<br \/>\nJ : jangan stalking dia. karena kalau stalking jadi terngiang-ngiang terus-terusan. Kita bisa minta bantuan orang lain. Jangan ragu. Karena mamang kita tidak bisa sendiri. Jangan ragu untuk menghubungi Savy Amira.<\/p>\n<p>Bene:<br \/>\nAdakah yang masih ingin disampaikan untuk mengakhiri sesi ini?<\/p>\n<p>Herlina:<br \/>\nJika kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan mengatakan tipeku yang kaya gini. Kadang tipe itu adalah orang-orang yang buat kita biasa atau terbiasa, sehngga menjadi menarik. Kita suka cowok yang cool, padahal \u00e2\u20ac\u0153cool\u00e2\u20ac\u009d padahal itu menyiksa kita secara psikologis. Jatuh cinta juga tidak harus berlanjut pada membangun relasi. Jatuh cinta dan relasi itu sesuatu yang berbeda. Jatuh cinta, jatuh cinta saja. Tidak perlu terburu-buru membangun relasi, sehingga ada waktu untuk memikirkan apakah dia orang yang tepat untuk kta. Kekerasan toxic relationship ini dapat didiagnosa di awal. Jika sudah berada dalam relasi, akan sulit untuk keluar dari relasi tersebut.<\/p>\n<p>PERTANYAAN TERLEWAT DARI SESI<\/p>\n<p>Q8 : apakah ada batasan untuk menerima toxic relationship<br \/>\nA8 : Toxic relationship itu most of the time tidak bisa diterima, non-negotiable<\/p>\n<p>Q9 : apakah selalu mencari pembenaran pada kesalahan yang dia lakukan, adalah termasuk karena manipuasi yang dilakukan?<br \/>\nA9 : Ya, bisa jadi. Manipulasi akan membuat kita tidak mampu melihat bahwa ada yang salah dengan relasi atau pasangan kita. Maka kita akan berusaha mencari pembenaran dari hal yang sebenarnya kita tahu bahwa hal itu salah.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1161\" src=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-4.47.45-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"439\" height=\"780\" srcset=\"https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-4.47.45-PM.jpeg 439w, https:\/\/savyamirawcc.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-4.47.45-PM-169x300.jpeg 169w\" sizes=\"(max-width: 439px) 100vw, 439px\" \/><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo teman-teman muda, Berikut ini adalah rangkuman dari Seri Ngobrol dan Curhat Online bersama Savy Amira, NgoCOl #1 yang dilaksanakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1162,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1160"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1160\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1163,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1160\/revisions\/1163"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1162"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/savyamirawcc.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}